Senin, 24 Juli 2017

Pondok Jati



Mobil yang kutumpangi memasuki sebuah gang, setelah melewati plang besar bertuliskan nama sebuah perusahaaan. Lebih tepatnya –menurutku-- perusahaan Allah. Sekitar jalan, tumbuh banyak pohon jati menjulang tinggi, membawa angin, menyejukkan insan yang tinggal di sana. Banyak orang lebih mengenalnya ‘Pondok Jati’, beda jauh dengan nama yang terpampang di plang tadi. Gerobak pedagang berjejer rapih di sana. Ada cimol, tahu krispi, batagor, sioamy dan es pelangi. Itu yang kuingat. 

Tiga menit kemudian mobil berhenti di depan gerbang warna hijau. Beberapa bocah hilir mudik. Baju kokoh, sarung dan kopiah hitam yang dikenakannya, menjadi ciri khas tersendiri. Ya, Santri. Apa pun serba ngantri. Suka makan ikan teri. Biar besar jadi Mentri. Dagelan yang kutahu dari temanku, Mbak Sari.
“Ayo turun,” Sebuah suara mengomandani penghuni mobil. Kami sigap turun.

Ketika memasuki gerbang. Ada papan putih pengumuman, kecil, berderet tiga kata dan ditulis dengan huruf kapital. Refleks aku berhenti, memandang tulisan tersebut. Tidak sadar mulutku terbuka, sampai Yayu Yati menarik tanganku keras.
“Hust, jangan melongo! Cepat masuk,” ujarnya.
“Iya... Iya...” Aku belingsatan.

Jalanan aspal sangat bersih, tak kutemui sampah bersantai ria di sana. Pot bunga berbaris di tepian. Sebuah masjid klasik menyuguhkan keagungan rumah-Nya. Tepat samping kanan gerbang. Kutengok sekilas, di depan tempat pengimaman ada halaman yang tak terlalui luas dan  hanya beberapa pohon yang  tumbuh.  Dua gundukan tanah dikelilingi pagar kayu menggoda mataku untuk kedua kalinya.
“Itu kuburan Almarhum pengasuh Pondok,” Yayu mebisiskiku.
Aku mengangguk-angguk pelan.

Di serambi dan pojokan Masjid, beberapa santri terlihat santai dengan bersila. Mungkin menghafal atau membaca benda kotak di tanganya.
Di depannya berdiri bangunan yang memanjang. Di sana bertuliskan ”Kantor Pengurus” Sampingnya ”Tempat Jenguk Wali Santri.” Tapi ketika kutanya Yayu, kenapa tidak ke tempat itu, masih suasana liburan jadi bebas, katanya. Walhasil kami jalan lurus menuju asramanya Edin, putra kedua Yayu.
 Lalu lalang snatri membuatku sesekali menundukan kepala. Sebentar lagi masuk waktu ashar, banyak santri yang jalan cepat menuju tempat wudhu. Sebuah tampungan air besar terlihat di depan kamar mandi, airnya bening dan berlimpah.

Sosok bocah berkulit putih menyalami Yayu, aku dan rombongan lainnya. Ia mengajak kami berjalan belok ke kanan dari kamar mandi. Komplek asrama berdiri melingkar. Mengelilingi taman kecil. Konon, di belakang masih ada asrama lagi, karena santrinya kurang lebih seribu.

Kami duduk di serambi kamar Edin, karena di dalam tidak muat untuk menampung kami. Banyak santri baru masih suka duduk-duduk di kamar, kata Edin. Pantas saja di depan gerbang banyak mobil, ternyata para santri baru yang sedang daftar pondok.
Setelah ngobrol, melepaskan rindu keluarga pada Edin, kami pamit pulang. Sudah menjadi tradisi, ketika menjenguk saudara di Pesantren, kami selalu ngasih uang jajan. Tangan Edin mengepal. Karena kantong bajunya sudah tidak muat menyimpan uang. Senyum sumringah terpancar pada bocah yang kini masuk SMP itu. Kami berpisah.

Di Mobil, Yayu mulai obrolannya dengaku. Ia cerita pengalamn dulu sewaktu santri, hingga ia bercerita Edin, anaknya. Sebelum cerita, ia sudah tertawa kecil, menundang rasa penasaranku.
“Edin mah walaupun sedang tidur, kopiah hitam pasti selalu ada disampingnya. Karena salah satu perturannya diwajibkan berkopiah selama di pondok. Jadi, ketika dia bangun tidur, langsung pakai kopiah. Dilepas cuman pas tidur atau wudhu saja. “
Hahah. Kami seisi penghuni mobil berkelakar.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu! Saat aku melihat papan kecil itu bertuliskan ‘Kawasan Wajib Berkopiah’. Hihihi


#fiksi4
#onedayonepost


5 komentar:

Suzuhiinada mengatakan...

Ooh..itu tulisannya..hehe..
Typo2 sikit mblo :P

Unknown mengatakan...

Seperti di ponpes kebon jambu al islami (bacicir)

Musabbiha el Abwa mengatakan...

Iya mblo wkk kejar Dl


Tepat, Mang. terinspirasi dari sana

Simfoni Hening mengatakan...

Menarik, berhasil menggugah keingintahuan pembaca :)

Ratna mengatakan...

Kereenn mbaa nyaa.. 😍😘

THEME BY RUMAH ES